Dongeng Cornelia Funke

Posted on October 4, 2010 by

0



Suatu malam di musim gugur Moltimer Folchart membacakan buku Tintenherz untuk istri dan putrinya sembari duduk di depan perapian. Saat membaca bab ketujuh tiba-tiba saja tokoh cerita yang namanya disebut muncul di hadapan mereka.

Sayangnya yang muncul justru tokoh-tokoh jahat yang ternyata berniat meneruskan kejahatan mereka di dunia nyata. Mo dan putrinya Meggie lari dari kejaran mereka sembari mencari cara mengeluarkan istrinya yang bertukar tempat dengan para pengejar itu dalam cerita Tintenherz.

Inilah kisah Mortimer alias Mo yang punya kemampuan mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Novelis asal Jerman, Cornelia Caroline Funke, menuangkan kisahnya dalam trilogi Inkworld.

Buku pertama trilogi ini, Inkheart, telah diangkat ke layar lebar oleh New Line Cinema dan dibintangi oleh Brendan Fraser. Penerbit Gramedia Pustaka Utama pun telah menerbitkan versi bahasa Indonesianya pada Januari lalu.

Inkheart bisa dibilang buah dari perjalanan panjang literatur fiksi fantasi. Ini bisa dilihat dari penggalan cerita anak klasik yang diletakkan Funke di setiap awal bab. Kutipan-kutipan itu secara tak langsung menunjukkan kekayaan bacaan penulisnya sebelum menuliskan novel fantasi yang menawarkan orisinalitas tanpa menyontek karya-karya yang mendahuluinya.

Yang khas dari novel-novel Funke adalah tokohnya yang manusiawi tanpa ilmu sihir mematikan atau senjata pamungkas. Idenya menarik namun dipadu gaya penyampaian cerita yang ingin membuka teka-teki cerita dengan perlahan telah membuat cerita novel mengalir lambat bahkan tanpa adegan-adegan klimaks sehingga butuh niat membaca yang kuat agar tak cepat bosan. Apalagi tebal setiap judulnya sekitar 400 sampai 500 halaman.

Untungnya Funke tak gemar bertele-tele karena alur cerita dijaga tetap fokus. Ini keuntungan dari penulisan yang tak tergesa-gesa dengan proses kreatif dan riset yang rata-rata memakan waktu dua tahun. “Saya tak mau mempercayai ide awal yang muncul dan terus menggali sampai akhirnya menemukan ide yang lebih orisinil,” ujar perempuan yang pernah bercita-cita menjadi astronot ini.

Sejauh ini Funke sudah menulis 40 buku fiksi fantasi anak yang mengantarkannya berbagai penghargaan literatur internasional dari Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Ini terbilang luar biasa bagi novelis yang memulai karirnya dari ilustrator buku.

“Lama-kelamaan saya bosan dengan cerita-cerita yang harus saya beri ilustrasi,” kata Funke. “ Akhirnya saya putuskan menulis cerita sendiri dan menggambar sendiri ilustrasinya.”

Selain Inkheart karya tulisan dan ilustrasi Funke yang pertama, Drachenreiter, diterjemahkan Gramedia dan diterbitkan dengan judul Sang Penunggang Naga. Novel ini mengangkat kisah klasik tentang perburuan naga. Namun Funke membuang ksatria berkuda yang membunuh naga lantas memberikan seting lebih modern bahkan menerbangkan naganya ke Asia yang sebenarnya memiliki legenda naga yang berbeda dengan dataran Eropa.

Selain itu diterbitkan juga Herr Der Diebe atau Pangeran Pencuri yang satu dari sedikit novel Funke yang bukan fantasi. Novel ini bercerita tentang dua anak yang melarikan diri dari rumahnya ke Venesia dan bertahan hidup dengan bantuan pencuri ulung yang masih remaja. Sekilas cerita ini perpaduan dari kisah klasik Oliver Twist dengan Peter Pan.

Membaca novel-novel ini akan menemukan perhatian Funke pada detil yang dilukiskan dengan kalimat-kalimat yang puitis kadang penuh personifikasi. Ketimbang menulis angin dingin berhembus masuk, misalnya, Funke memilih menulisnya “Malam menerobos masuk, gelap, dan lembap”. Atau saat menceritakan cahaya yang masuk ke dalam kamar perempuan berusia 50 tahun ini menulis: “Sinar lampu dari selasar jatuh di tempat tidur menyatu dengan kegelapan malam yang masuk dari jendela”.

Sayang memang banyak pembahasaan Funke yang unik itu hilang akibat penerjemahan. Yang satu ini memang jadi masalah, seperti ditemui dalam Sang Penunggang Naga dengan nama tokoh yang ikut diterjemahkan seperti Kakiranting dan Bulubelerang terasa tak enak dibaca. Mestinya memang dibiarkan saja seperti tokoh Staubfinger (Tangan Debu) dalam terjemahan Inkheart. Makian kasar yang kerap muncul juga cukup menganggu apalagi galibnya buku ini ditujukan bagi pembaca belia meski tetap bisa dinikmati orang dewasa.

Terlepas dari masalah-masalah itu, dongeng-dongeng fantasi Funke ini cukup menghibur. Seperti kata Funke: “Fantasy itu cara tertua dan terbaik menyampaikan cerita melewati batas-batas kehidupan sehari-hari dan masuk dalam imajinasi petualangan tanpa batas di dunia yang asing.”

Okta Wiguna

Advertisements
Posted in: cerita buku