Bukan Kisah Cinta Cinderella

Posted on October 18, 2010 by

0



[by Eno Siregar] “Izinkan,” Alan berkata lembut, “aku menjadi bilangan primamu. Bilangan prima yang hanya bisa dibagi dengan bilangan itu sendiri atau dibagi dengan angka satu. Angka satu adalah kamu, satu-satunya dan selalu menjadi nomor satu.”

So… sweet! Perempuan mana tak klepek-klepek dibombardir perhatian lewat kalimat-kalimat puitis dari seorang pria. Jurus Alan tak cuma satu, masih ada hangatnya percakapan telepon dan pesan pendek, mengirim selusin mawar putih disertai puisi romantis, hingga ajakan menonton pertunjukan musisi asing.

Apalagi Alan Nashar (Alan) berwajah tampan, hangat, dan mapan secara finansial. Semua ini menjadikan Sassy Karenina (Sassy) yakin menerima lamaran Alan untuk menikah. Ini semua selaras dengan dunia Sassy yang penuh warna cinta.

Sassy adalah perempuan modern, lulusan universitas ternama, dan memiliki perusahaan mak comblang sekaligus wedding organizer. Tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar bagi Sassy daripada mempertemukan dua orang yang saling tak mengenal, menjodohkan hingga menggiring mereka menuju kehidupan pernikahan.

Perusahaannya berkembang baik, hingga ia bertemu dengan sosok Alan.
Cinta pandangan pertama yang tak bertepuk sebelah tangan. Kisah mereka berlanjut hingga bermuara di pelaminan 8 bulan kemudian. Namun, kisah mereka bukan dongeng masa kecil yang berakhir dengan pernikahan putri dan pangeran yang bahagia selama-lamanya.

Dimulai tepat pada hari kedua bulan madu mereka di Bali, Alan menampar Sassy. Alan cemburu melihat Sassy mengobrol akrab dengan pria bule di kolam renang hotel mereka. Meski kaget, Sassy menerima permintaan maaf dan janji Alan untuk tak mengulanginya.

Namun, Alan semakin merajalela. Ia membatasi hubungan Sassy dengan ketiga sahabatnya, Rose, Carmanita, dan Naya. Ia juga menyuruh Sassy menjual perusahaan hingga mengatur potongan rambut dan penampilan Sassy.

Makian dan siksaan fisik mengisi kehidupan perkawinan Sassy. Mata Alan yang awalnya jenaka menggoda bisa berubah menjadi dingin. Sikap yang semula ramah berubah jadi bermulut tajam. Gaya kontradiksi Alan selalu berlandaskan rasa sayang yang diiyakan Sassy dengan sikap mengalah. Atau lebih tepatnya, Sassy percaya Alan mencintainya. Digabungkan dengan rasa takut kehilangan, dan kehamilan membuat Sassy enggan bercerai.

Namun, rasanya harapan Sassy sia-sia. Kehamilan tak membuat sikap Alan berubah serta berupaya menjadi calon ayah yang baik. Kehadiran Emma, nama putrinya, tak mengubah Alan. Bahkan Alan berani ketahuan berselingkuh dengan temannya.

Intinya penulis ingin menyampaikan bahwa pernikahan tak selalu menjamin kebahagiaan. Justru kadang bisa menjadi tembok derita bernama kekerasan dalam rumah tangga. Sayangnya, cerita Tea for Two, yang sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung Kompas Oktober 2008-Februari 2009, menyisakan logika mengganggu.

Misalnya, di bagian akhir diceritakan dalam setahun sejak perceraian Sassy kembali menjalankan bisnis mak comblang plus wedding organizer dengan nama perusahaan Tea for Two lagi. Padahal di bagian tengah dikemukakan Sassy–atas saran Alan demi keutuhan rumah tangga–sudah menjual perusahaan tersebut pada pihak lain. Biasanya nama merek dagang atau bendera perusahaan menjadi hak pemilik baru sehingga tak mudah kembali menjalankan usaha dengan nama yang sama.

Lalu kutipan di halaman 310: “Bertiga mereka berjalan menuju mobil Toyota Alphard milik Sassy”. Dahsyat betul, Sassy mampu membeli mobil senilai hampir Rp 1,1 miliar dalam setahun setelah bisnis harus kembali ke titik nol, sementara perceraiannya masih terkatung-katung, yang artinya Sassy belum memperoleh harta gono-gini.

Memang bukan masalah benar. Sejumlah pembenaran bisa saja kita pikirkan. Bisa saja keluarga Sassy memang kaya raya atau Sassy amat bekerja keras sehingga mampu membeli mobil mewah atau Sassy mampu menyewa mobil dalam jangka waktu tertentu atas nama perusahaannya.

Tapi yang lebih parah adalah kontradiksi dalam latar belakang keluarga Sassy. Di awal (pada halaman 21), Sassy menyebutkan diri berasal dari keluarga harmonis. Simak saja kalimat ini: “Sebutlah orang tua saya sebagai contoh. Mereka adalah pasangan mesra yang membuat mata saya selalu melirik cemburu kepada kekompakan mereka. Dan setidaknya membuat saya harus bersyukur mempunyai orang tua yang sempurna”.

Tapi, di halaman 212, dalam pertengkaran antara Mama dan Sassy di ruang praktek dokter anak, terpapar masa kecil Sassy yang trauma akibat ayahnya meninggalkan keluarganya setelah bertengkar hebat dengan Mama.

Namun, secara keseluruhan, Tea for Two menyajikan jalan cerita renyah dan mengalir. Termasuk kesetiakawanan empat perempuan metropolis lengkap dengan dunia khasnya. Pembaca bisa mengerti terperinci jalan cerita karena pikiran dan kilas balik peristiwa yang dialami Sassy tertulis dalam font Arial, berbeda jenis dengan jalan cerita utama yang tertuang dalam Times New Roman.

Ini buku ke-11 Clara Ng. Tulisan lulusan Ohio State University Jurusan Interpersonal Communication ini banyak membahas soal perempuan, keluarga, dan cinta. Namun, peraih Adikarya Ikapi selama tiga tahun berturut-turut (2006-2008) itu juga menghasilkan cerita anak-anak yang lumayan berkualitas.

Judul: Tea for Two
Pengarang: Clara Ng
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: I – Februari 2009
Tebal: 312 halaman

* Resensi ini pernah dimuat pada Koran Tempo, Minggu, 05 April 2009. Dimuat di bukunya atas seizin Eno.

Advertisements
Posted in: bedah buku