Pameran Buku Yang Lesu

Posted on October 18, 2010 by

0



[by Okta Wiguna] Lembaran-lembaran formulir ditumpuk rapi. Tiga orang perempuan yang bertugas menunggui formulir itu masih sibuk merapikan meja di depan ruangan pertemuan di Hotel Bumi Karsa, Jakarta.. Jauh di awal tahun, mereka bersiap menyambut para “pembeli” stand Indonesia Book Fair 2010.

Persiapan festival buku yang satu ini terbilang mewah. Wajar memang, karena seperti bunyi siaran persnya, ajang tahunan milik Ikatan Penerbit Indonesia ini memang pameran berkelas internasional.

Karena itu saya terkejut ketika pekan pertama bulan ini, Indonesia Book Fair yang ke-30 malah diadakan di gedung olahraga Istana Olahraga Senayan. Padahal, tahun-tahun sebelumnya digelar di Balai Sidang Jakarta yang jadi langganan pameran-pameran bergengsi di Jakarta.

Pindah ke Istora membuat Indonesia Book Fair “turun kelas” setara perhelatan lokal Pesta Buku Jakarta yang dibuat oleh Ikapi Jakarta. Masalahnya, stadion yang satu itu cat dindingnya sudah lapuk. Auditoriumnya, ruang Anggrek, mesin pendingin udranya tak terasa dan lampunya pun ogah-ogahan bersinar.

Stand-stand penerbit yang biasanya megah seperti grup Gramedia dan grup Agromedia, kali ini hanya membuka pojok mini. Penerbit Erlangga yang suka jor-joran dengan tata dekorasi yang mencakar langit-langit pun mati angin di ruangan yang beratap rendah.

Juli lalu Pesta Buku Jakarta memakai tempat yang sama dan pesertanya membludak. Penerbit yang jarang ikut pameran seperti Matahati pun berhasil digandeng. Panitia sampai harus mendirikan tenda demi menampung penerbit yang tak kebagian tempat di dalam Istora.. Sebaliknya saat Indonesia Book Fair yang lebih tinggi levelnya, beberapa peserta langganan seperti Komunitas Bambu malah absen dan “menitipkan” bukunya di stand kelompok Gramedia.

Memang kali ini Book Fair menyuguhkan pemandangan baru dengan mendatangkan perpustakaan daerah yang memenuhi salah satu sayap Istora. Namun ini lebih terlihat seperti akal-akalan mengatasi surutnya minat penerbit, lantaran tahun lalu Perpustakaan Nasional dan Ikatan Penerbit sudah menggelar Library & Publisher Expo yang mampu mendatangkan lebih banyak perpustakaan. Ini blunder yang lebih parah dari tahun lalu saat panitia mengenakan karcis masuk dan pameran buku jadi sekedar suplemen bazaar komputer di sebelahnya.

Semestinya Book Fair jadi ajang puncak berbagai acara dunia literatur, namun pemilihan lokasi dan pengelolaan yang amburadul itu membuatnya barangkali harus dicoret dari daftar acara perbukuan yang patut dinanti. Mahkotanya mesti diserahkan ke Pesta Buku Jakarta, yang sebenarnya juga lebih mirip bongkaran gudang ketimbang pameran.

Ada apa sebetulnya dengan Indonesia Book Fair?

“Kami tidak kebagian tempat,” kata Kartini Nurdin, salah seorang pengurus pusat Ikatan Penerbit, yang saya temui di hari pembukaan. Memang pamerannya bersamaan dengan Kesetiakawanan Sosial Nasional Expo 2010 yang dibuka Wakil Presiden Boediono. Pembukaan Book Fair sendiri cuma diresmikan Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal.

Namun ada cerita lain soal lesunya Indonesia Book Fair. Petinggi sebuah penerbit bercerita kalau acara itu memang tak pernah jadi ajang yang menarik buat penerbit. “Harga stand lebih mahal tapi pengunjungnya lebih sepi,” kata dia.

Menurutnya, lokasi di Balai Sidang Jakarta yang “mewah” membuat para pengunjung kelas menengah ke bawah enggan datang. Karenanya lebih sepi dan pemasukan tak bisa menutupi modal menyewa, membuat, dan mengisi stand.

Sejak awal memang ada salah kaprah dan keliru menerapkan strategi buat meramaikan pameran buku. Saya tak ingin memaksa pameran buku Indonesia menjadi Frankfurt Book Fair yang “cuma” acara temu penerbit, agen literatur, dan pembeli hak terbit. Namun menyedihkan kalau ada penyederhanaan pameran buku mejadi tempat penjualan buku tak laku dan mencari laba sesaat dengan banting harga gila-gilaan .

Pameran mestinya jadi ajang unjuk gigi penerbit memamerkan produk-produk unggulan mereka setahun ke depan sekaligus menunjukkan sukses mereka setahun ke belakang. Ikatan penerbit mestinya membujuk agar penerbit mau menunda peluncuran buku unggulan mereka agar serempak dilakukan pada Indonesia Book Fair.

Buat mendongkrak pengunjung, panitia bisa menggandeng komunitas-komunitas penulis dan pembaca yang kini jumlah terus bertambah. Mulai dari kelompok pecinta buku Goodreads sampai fans seri novel Harlequin atau anggota forum fans novel Twilight. Masih ada anggota milis penyuka novel thriller penerbit Dastan. Kerja sama juga bisa dijalin dengan para blogger juga tengah menggarap “Pesta Blogger 2010”. Acara setiap komunitas yang menarik para simpatisannya bakalan meramaikan pameran sehingga para penyewa stand bisa diyakinkan acara akan ramai supaya mereka lebih serius berpameran.

Menurut almarhum Mula Harahap, pengurus Ikapi yang meninggal dunia menjelang Book Fair, pada pada 1987 Indonesia Book Fair dibanjiri pengunjung sampai diulas tajuk harian suratkabar. Kini 23 tahun setelahnya, hampir tak ada koran yang meliriknya.

Advertisements
Posted in: kolom