Komik versus Novel Grafis

Posted on October 25, 2010 by

2



[by Bunga M.]
Apa sih bedanya komik dan novel grafis?
Saya pikir sebetulnya tidak ada sama sekali. Novel grafis cuma istilah pemasaran, atau bungkus, yang lebih cantik buat komik.

Wikipedia saja seperti bingung mendefinisikan novel grafis itu apa :

“…narrative work in which the story is conveyed to the reader using sequential art in either an experimental design or in a traditional comics format.”

Ambigu, apakah novel grafis itu memakai desain eksperimental atau format komik tradisional?

Coba kita mundur sedikit untuk mendefinisikan komik. Komik berakar dari kata comic dalam bahasa Inggris, yang dapat diartikan sebagai hal yang lucu, berkaitan dengan humor, komedi dan gelak tawa. Terminologi komik seperti yang digunakan sekarang tadinya merujuk pada muatan humor cerita bergambar pada akhir abad ke-19 yang dimuat dalam media massa di Inggris dan Amerika Serikat.

Lama kelamaan, kata komik yang sebenarnya menjelaskan konten media justru menjadi istilah yang mengacu pada bentuknya. Pengertian serupa tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pada lema komik : cerita bergambar dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku, yang umumnya mudah dicerna dan lucu.

Penggunaan ganda istilah komik, sebagai kata sifat yang menjelaskan genre (humor) sekaligus kata benda yang merujuk pada medium itu sendiri, banyak dikritik sebagai membingungkan dan menyesatkan. Pasalnya, tidak semua komik bersifat lucu, meski boleh jadi itulah yang diharapkan pembacanya.

Komik lantas dilekati predikat hiburan massa, seni kelas rendah. Bacaan untuk anak dan remaja, transisi dari buku yang dipenuhi gambar ke buku yang dijejali tulisan semata.

Komikus Amerika Serikat kemudian menggagas istilah novel grafis untuk membedakan komik dengan muatan yang lebih dewasa. Istilah “dewasa” di sini merujuk pada cerita yang lebih rumit, filosofis, dan umumnya tidak mudah dimengerti anak-anak. Jadi novel grafis bukanlah berisi penggambaran eksplisit tentang seksualitas untuk membangkitkan birahi (meski tak jarang menyelipkan gambar telanjang, tetapi sekali lagi, pornografi bukanlah tujuan).

Frase novel grafis muncul di negeri Abang Sam pada periode 1940-an, tetapi baru mendapatkan momentumnya pada tahun 1978. Yakni, pada saat edisi paperback A Contract With God karya Will Eisner terbit. Edisi paperback ini dilabeli “novel grafis”, sedangkan edisi awalnya yang hardcover tidak.

Kesuksesan A Contract with God — baik secara komersial maupun sisi banjir puja-puji dari kritikus — membuat Eisner kerap dikira sebagai pencetus istulah novel grafis.

Eisner sendiri mendefinisikan komik sebagai seni bertutur dengan gambar secara beruntutan (sequential). Sedangkan Scott McCloud, komikus yang menjelaskan komik dengan sangat bagus dalam Understanding Comics, merumuskan komik sebagai gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjukstaposisi (berdampingan) dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan / atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya.

Memakai kedua rumusan itu, jelas sudah, novel grafis tak lain adalah komik juga. Jika frase novel grafis belakangan sering dipakai, saya percaya itu sekadar trik pemasaran untuk menggaet orang dewasa yang mungkin telah bertahun-tahun melupakan komik, menganggapnya bacaan anak kecil.

———————
gambar disalin dari http://en.wikipedia.org/wiki/Graphic_novel

Advertisements
Posted in: cerita buku