Obama Apa Adanya

Posted on November 9, 2010 by

0



foto milik penerbit Mizan

[by Okta Wiguna] Sudah begitu banyak buku tentang presiden Amerika Serikat ini mulai dari yang mengulang-ulang kisah masa kecilnya di Jakarta sampai yang mengulas kiat-kiat pidatonya. Buku Dreams From My Father versi terjemahan ini muncul jauh setelah Obama dilantik dan pamornya pun mulai surut tergerus resesi ekonomi yang membelit pemerintahannya.

Tapi sepertinya ada yang begitu menarik dalam buku ini sampai memenangi penghargaan Biografi Terbaik versi British Galaxy Book Award 2009, yang oleh orang Inggris disebut Oscarnya dunia perbukuan. Apalagi ini buku yang ditulis sendiri oleh Obama. Pastilah ada sesuatu yang ditawarkannya ketimbang buku-buku lainnya itu.

***

Dreams From My Father diterbitkan pertama kali pada 1995 yang mengisahkan perjalan hidup Obama dari masa kanak-kanak sampai ia menjelang melanjutkan studi hukum di Universitas Harvard. Buku ini disusun dalam rangka terpilihnya Obama sebagai pemimpin Harvard Law Review pertama yang orang Afro Amerika. Lantas dirilis ulang pada 2004 menjelang pidatonya di Kongres Nasional partai Demokrat yang membuka pintu kariernya di ranah politik.

Meski ini biografi orang yang bergelut dengan permasalahan politik dan sosial ternyata gaya bahasanya sangat luwes dan mengalir bagaikan novel. Ini barangkali karena penulisnya memang terbiasa membaca novel. Dalam liburannya yang dimulai hari Minggu kemarin, selain mengepak buku nonfiksi setebal ratusan halaman ia juga membawa novel drama dan novel kriminal. Barangkali kegemarannya membaca novel inilah yang membuat gaya bahasanya tak kering dan tokoh-tokohnya begitu hidup.

Namun, yang teristimewa dari buku ini adalah kejujurannya. Orang kebanyakan tak akan membuka borok-borok hidupnya di muka umum, namun Obama dalam derajat yang lumayan besar berani membuka lika-liku keluarganya yang jelas bukan tipe keluarga ideal bagi pembesar di Amerika atau manapun di dunia.

Dalam dunia politik dimana setitik aib akan jadi sebelanga amunisi lawan, Obama menulis tanpa kepura-puraan atau mencoba mendramatisir hidupnya. Tidak berusaha tampil sebagai manusia super agar bercitra baik ataupun menampilkan diri sebagai sosok yang dizalimi agar mengundang simpati. Memang buku ini ditulis jauh sebelum karier politiknya dimulai sehingga bersih dari polesan politis, namun dengan berbagai rencana-rencana besarnya yang ditulis di buku ini, keterbukaan seperti ini sama saja bunuh diri.

Obama dengan berani membuka kusutnya kehidupan biduk keluarga orangtuanya juga kakeknya yang tertekan dengan karier neneknya yang lebih baik. Tanpa ragu pula bercerita ia jadi bahan celaan di sekolahnya atau ia telah menyakiti sesama temannya ketika banyak tokoh mengupas betapa berjayanya mereka di antara teman sepermainan.

Biasanya biografi selugas ini ditulis orang lain yang tentu saja tak punya keraguan menelanjangi tokoh yang ditulisnya, namun bagi sebuah otobiografi langkah ini terbilang langka. Ini cetak biru otobiografi yang bisa dicontoh dimana penulisnya tetap bertahan menceritakan hidupnya bukan menyerang faksi-faksi yang berseberangan dan membuka hidup dengan sejujurnya seolah mengatakan, “Anda bebas berpendapat tentang masa lalu saya, namun itulah yang membuat saya menjadi diri saya hari ini.”

Biografi ya mestinya seperti ini. Jujur menceritakan berbagai sendi kehidupan seseorang yang dari situlah orang bisa mengambil pelajaran. Jika sebuah biografi penuh kepalsuan, inspirasi dan harapan macam apa yang akan didapat pembacanya?

Advertisements
Posted in: bedah buku