Resep Curian di Dapur Penerbit

Posted on November 16, 2010 by

0



[by Okta Wiguna] Evida tak lagi mengunggah masakan atau kue bikinannya di blog With Food and Love, Comes Warmth. Padahal lima bulan lalu ia rajin menulis resep masakan yang dicoba, lengkap dengan foto hasilnya. “Saya jadi malas menulis hasil masakan saya, malas mengisi blog, bahkan mengintip blog saya sendiri pun enggan.”

Maret lalu Evida kaget melihat sebuah buku resep yang tanpa permisi mengambil tulisan serta foto-foto di blognya. Apalagi, buku terbitan Surabaya itu bukan satu-satunya. Ia tak terlalu keberatan soal resepnya, toh ia sendiri mengutip dari sana-sini. “Tapi, enggak perlu mengambil foto-fotonya juga kan?” tulisnya.

Evida cuma satu dari banyak blogger yang resep ataupun foto masakannya dicuri penerbit. Mereka curhat di laman situs Facebook Lawan Pencurian Foto dan Konten Blog!.

Mereka inilah korban booming buku resep masakan. Mewabahnya tayangan memasak di televisi, mendadak membuat gairah menjajal aneka masakan melonjak. Buku resep pun diburu dan penjualannya sampai menyaingi novel-novel bestseller.

Seorang editor bahkan membisikkan beberapa penulis buku resep menangguk pembayaran royalti super besar. “Mereka tinggal duduk saja dan uang terus mengalir.”

Bukan cuma penulis yang diuntungkan, penerbit pun setali tiga uang. Buku jenis ini tak perlu repot mengolahnya, tak perlu repot menelaah kata dan kalimat. Tak perlu jadi juru masak berijazah pun asal datang bawa resep apalagi sekaligus foto contoh penyajian, naskah bisa diterbitkan. Bahkan patut diragukan apakah resep-resep tersebut sempat diuji coba karena saya belum pernah melihat kantor penerbit dengan dapur yang memadai buat memasak.

Fenomena buku masak ini bukan cuma di tanah air. Penerbit Bloomsbury yang kebingungan setelah serial Harry Potter habis pun beralih ke buku resep. Menurut Chief Executive Bloomsbury Nigel Newton, buku resep yang biaya produksinya murah menjadi jalan keluar kala tahun lalu krisis ekonomi memporak-porandakan keuangan perusahaan.

Namun masalah dalam dunia penerbitan selalu sama. Aliran naskah tak selancar yang diinginkan penerbit, padahal buat bersaing dalam genre ini ada dua syarat penting, yakni variasi menu dan terus-menerus menyuplai buku baru.

Sebuah penerbit yang bermarkas di Jakarta Selatan sebenarnya sangat tertarik meraup untung dari tren buku resep, namun mereka batal karena tak sanggup menyediakan banyak judul dalam waktu singkat. “Kalau cuma menaruh satu atau dua ya habis dilibas yang lain.”

Kebutuhan naskah yang tinggi itu memicu penjarahan resep dari sumber yang melimpah dan tak terlindungi dengan baik: blog. Bisa jadi penulisnya yang nakal sehingga penerbit mesti hati-hati betul menyeleksi naskah dan mengecek ulang terutama foto masakan yang dipakai dalam buku kalau tak mau tersandung aturan soal hak cipta.

Padahal daripada mencuri isinya, penerbit justru bisa menggandeng pemilik blog resep dan menerbitkan karya mereka daripada merampok. Pencurian karya hanya akan membuat semakin banyak blogger seperti Ervida yang enggan menulis lagi dan ujung-ujungnya penerbit malah akan semakin sulit mencari naskah buat diterbitkan. Penerbit yang bengal, sudah sepantasnya diberi pelajaran.

Advertisements
Posted in: kolom