Mengulas Misteri 2012

Posted on December 6, 2010 by

0



[by Okta Wiguna] Bangsa Maya menjalani peradabannya di Amerika Tengah dan Meksiko tanpa mengenal logam dan roda. Tapi mereka bukanlah suku primitif dan terbelakang. Buktinya, tanpa teleskop dan mesin hitung, mereka menyusun kalender melalui pengamatan benda langit dengan mata telanjang yang disusun secara matematis.

Anehnya, meski peradaban Maya diperkirakan berkembang pada abad keempat dan kelima Masehi, sistem penanggalan yang mereka ciptakan itu dimulai pada 13 Agustus 3113 Sebelum Masehi dan berakhir pada 12 Desember 2012 Masehi.

Kalender inilah yang menjadi sumber ramalan bahwa kiamat datang pada 2012. Apalagi sistem penanggalan di peradaban kuno Cina, India, dan Persia juga menunjukkan sesuatu yang besar akan terjadi di seputar tanggal tersebut.

Isu kiamat 2012 ini sebenarnya cerita lama. Tapi, seiring dengan mendekatnya tenggat, banyak yang mulai mengaitkan penanggalan Maya itu dengan aktivitas matahari yang akan mencapai puncaknya tiga tahun lagi. Badai (hurikan) Katrina, Rita, dan Wilma pada 2005 ternyata terjadi berbarengan dengan badai di matahari.

Perbincangan misteri 2012 ini juga menggejala di dunia literatur. Toko buku online Amazon.com memiliki lebih dari 40 judul buku dengan tema tersebut. Dari jumlah itu, setidaknya ada tiga buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Mereka yang tak terlalu suka membaca buku nonfiksi atau jeri dengan kerumitan teori dan ramalan akhir zaman bisa memulainya dari Invisible City karya M.G. Harris. Novelis kelahiran Kota Meksiko ini menulis seri novel remaja The Joshua Files, yang mengangkat perburuan buku suku Maya “Codex Ix” yang dipercaya memuat rahasia peristiwa pada 12 Desember 2012.

Setelah membaca novel yang diwarnai aksi baku hantam dan kejar-kejaran mobil ini, pembaca bisa melangkah ke buku Lawrence E. Joseph, Kiamat 2012: Investigasi Akhir Zaman. Setengah daging novel yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini didasari temuan arkeologi suku Maya dan hipotesis terbaru soal badai matahari yang berpotensi mengacaukan kehidupan di bumi.

Joseph mengumpulkan bahan dengan mengunjungi situs Maya serta berbincang dengan keturunan bangsa penghuni Semenanjung Yucatan ini. Dia juga mengunjungi pusat pengamatan benda langit di berbagai belahan dunia, ditambah perbincangan dengan ilmuwannya. Inilah yang membuat bukunya lebih hidup.

Namun, informasi yang dikumpulkan itu membuat penulis berdarah Libanon ini tersandung pada data yang berisi angka, istilah, dan teori sains yang pelik. Agar pembacanya tak mengerutkan kening, Joseph mengemas hal itu dengan jenaka sampai-sampai hampir tak ada paragraf yang sepi dari humor dan sentilan nakalnya.

Sementara Joseph menuliskan dengan banyak memuat pandangan subyektifnya, buku Mystery of 2012 yang dikerjakan oleh tim yang dipimpin Gregg Braden justru menyajikan kumpulan tulisan yang lebih obyektif, serius, dan ilmiah.

Ada 24 tulisan yang dibuat oleh ilmuwan fisika, filsuf, seniman, sampai pemimpin spiritual termasuk Lawrence E. Joseph. Mereka membedah peradaban Maya sebagai sumber misteri, serta mengulas misteri 2012 dari sudut pandang sains, politik, ekonomi, dan spiritual.

Meski misteri seputar “kiamat dari matahari” rata-rata berbicara soal kehancuran dunia, ketiga buku ini justru menawarkan semacam optimisme. Bahwa orang-orang Maya sendiri tak pernah menyebut akhir kalender sebagai ajalnya bumi sehingga terbuka peluang lain, yakni Desember 2012 sebagai awal baru atau titik balik peradaban.

Harris, misalnya, menawarkan ide bahwa dalam “Codex Ix” barangkali ada jawaban cara menghindarkan manusia dari bencana 2012. Sementara itu, Gregg menawarkan satu bab yang mengajak agar memakai momen 2012 itu sebagai pelecut introspeksi serta memprediksi secara positif kemungkinan yang terjadi setelahnya.

Toh, sepanjang sejarah manusia, telah muncul prediksi kapan hari akhir zaman terjadi namun sejauh ini semuanya meleset. Bisa jadi ramalan 2012 salah satu yang keliru itu, namun seperti diutarakan Joseph, kiamat tetap akan terjadi dalam waktu dekat jika manusia menyalahgunakan teknologi menjadi senjata pemusnah massal dan enggan menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan.

Advertisements
Posted in: bedah buku