Pemenang Hadiah Sastra Rancage 2011

Posted on February 17, 2011 by

0



foto dari galuh-purba.com

Yayasan Kebudayaan Rancage kembali memberikan anugerah Hadiah Sastra Rancage kepada pengarang karya sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Selain diberikan kepada pengarang buku sastra berbahasa daerah tersebut, Rancage juga dianugerahkan kepada individu atau lembaga yang dinilai berjasa dalam mengembangkan sastra daerah-daerah tadi.

Tahun ini Rancage untuk sastra Sunda diberikan kepada Us Tiarsa untuk buku kumpulan cerita pendeknya, Halis Pasir. Buku terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung, tersebut adalah antologi cerpen pertama Us selama 30 tahun ia menulis berbagai karya sastra dalam bahasa Sunda.

Buku berisi 13 cerita pendek US Tiarsa itu mengungguli 10 judul lainnya yang dipilih juri. Karya lainnya antara lain kumpulan tiga cerita pendek berjudul Sapeuting di Cipawening karya Usep Romli H.M., Layung Katumbiri karya Nunung Saadah, dan naskah sandiwara Rosyid E. Abby, Kabayan Ngalanglang Jaman. Buku lainnya berupa roman, kumpulan esai, dan buku anak-anak Rasiah Kodeu Biner karangan Dadan Sutisna.

Juri Rancage Teddy Muhtadin melihat karya sastra Sunda berwarna senada dengan cerita lebih mengarah ke realitas atau persoalan hidup sehari-hari. Namun kritikus sastra Sunda itu menilai karya Us Tiarsa lebih halus dan sabar. Keunggulan itu hampir merata di 13 cerita pendeknya. “Dia lebih matang dan struktur bahasa Sundanya sangat baik. Juga banyak kata yang muncul terasa pas,” ujar Ketua Program Studi Sastra Sunda Universitas Padjadjaran itu.

Selain buat Us, penghargaan sastra Sunda tahun ini juga diberikan kepada Usep Romli yang dianggap berjasa dalam pengembangan sastra Sunda. Usep Romli banyak menulis sajak, cerita anak, dan novel termasuk Sanggeus Umur Tunggang Gunung yang tahun lalu mendapat penghargaan Rancage.

Sementara itu Rancage untuk sastra Jawa diberikan kepada Pulo Asu, kumpulan cerpen karya Herwanto, yang diterbitkan Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro. Lanang Setiawan juga menerima Rancage sastra Jawa karena dianggap berjasa mengembangkan sastra Tegal sejak 1984.

Lalu Rancage sastra Bali diberikan kepada Sang Lelana, kumpulan sajak karya I.D.K. Raka Kusuma, yang diterbitkan Sanggar Buratwangi. Raka juga menyabet Rancage pada 2002 atas jasanya dalam mengembangkan sastra Bali.

Sayangnya tahun ini tak ada hadiah untuk sastra Lampung. Juri tak menemukan ada buku sastra yang terbit dalam bahasa itu sepanjang 2010.

Hadiah Sastra Rancage digagas oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi pada 1989. Mulanya hadiah ini khusus untuk karya sastra Sunda, tapi kemudian diluaskan untuk sastra Jawa, Bali, dan Lampung juga.

Lewat Rancage, Ajip ingin sastra Sunda tetap hidup. Selain membuat hadiah Rancage, ia mendirikan penerbitan Kiblat Buku Utama pada 2000 dari hasil penjualan dua lukisan potret diri dan pemandangan laut pemberian maestro Affandi senilai Rp 500 juta. Sekarang ia bersiap menjual koleksi lukisannya lagi untuk mendirikan Perpustakaan Ali Sadikin di Bandung, yang akan menjadi pusat seni Sunda. “Saya sendiri tidak mengharapkan apa-apa dari Indonesia dengan kondisi sekarang ini,” katanya.

Bukunya – dari pelbagai sumber terutama tulisan Majalah Tempo Rancage Merawat Sastra Sunda

BACA JUGA:

1. Biografi Us Tiarsa Penulis Surat Jadi Sastrawan

2. Pemenang Rancage sebelumnya di arsip Wikipedia Indonesia

Advertisements
Posted in: berita buku