Gadis Cilik Melawan Penutupan Perpustakaan

Posted on February 27, 2011 by

1



foto dari http://firstnews.co.uk

Penduduk kota Wendover, Buckinghamshire, Inggris resah. Penghematan anggaran membuat Dewan Kota Buckinghamshire memutuskan akan menutup 14 perpustakaan kota, termasuk dua perpustakaan di Wendover.

Namun Dewan Kota membolehkan perpustakaan terus beroperasi jika masyarakat setempat mau sukarela mengelolanya. Wakil Ketua Dewan Kota Wendover Alan Myers tengah mencari sumbangan dan komuntas yang mau mengelola perpustakaan.

“Kami mau mencontoh perpustakaan Litte Chalfront yang berhasil selamat dari rencana penutupan lima tahun lalu,” kata Myers. Sukarelawan di Litte Chalfront bergiliran menjaga perpustakaan agar tak ada pengeluaran buat menggaji karyawan yang lumayan besar.

Tersebutlah Jessica Trueman, satu di antara penduduk Wendover yang berjuang menyelamatkan perpustakaan kota. Gadis berumur sembilan tahun ini mengumpulkan tanda tangan dukungan dari teman-teman sekolahnya dan merencanakan acara menginap di perpustakaan.

Tak Cuma itu, Jessica menyurati Perdana Menteri Inggris David Cameron. “Aku mencintai perpustakaan di kotaku dan minta Bapak dan Dewan Kota tidak menutupnya.”

Jessica minta waktu bertemu Cameron, namun jadwal Perdana Menteri rupanya terlalu pada. Tak ada waktu buat menemui Jessica, Staf Perdana Menteri meminta gadis itu membawa masalahnya ke Menteri Kebudayaan Jeremy Hunt.

Menteri Kebudayaan memang membawahi Dewan Museum, Perpustakaan, dan Kearsipan Inggris. Krisis ekonomi yang melanda Eropa memaksa pemerintah Inggris mengetatkan ikat pinggang. Berbagai program dan lembaga yang memboroskan uang negara perlahan-lahan dipangkas. Termasuk dalam daftar itu adalah Dewan Museum, Perpustakaan, dan Kearsipan yang akan ditutup pada 2012 bersama perpustakaan yang dikelolanya.

Maka kepada Hunt sekali lagi Jessica menulis surat. “Pak Hunt, buku sangat spesial. Kita bisa membaca cerita yang menakjubkan, belajar soal sejarah dan berbagai tempat di belahan dunia lain,” tulisnya.

Jessica bercerita, ia sering mengunjungi dua perpustakaan di kotanya untuk mencari buku-buku yang bisa membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah. “Sekarang keduanya akan ditutup. Bukankah Bapak sedang membuat kesalahan besar? Aku tidak akan menyerah memperjuangkan perpustakaan. Bisakah Pak Hunt tidak menutup perpustakaan?”

Lagi-lagi Jessica mentok. Ia malah disuruh bicara kepada dewan kota. Direktur Eksekutif Dewan Museum Roy Clare menilai permintaan Jessica salah alamat. Ia mengkritik orang-orang dewasa di sekitar Jessica yang menurutnya kurang memberi informasi soal pengelolaan anggaran pemerintah.

“Banyak pos anggaran dipangkas karena negara sedang berjuang mengatasi defisit keuangan,” kata Clare. Menurut Clare, dampak pemotongan anggaran terhadap fasilitas masyarakat diputuskan pemerintah dan masyarakat setempat, bukan oleh kantor Perdana Menteri ataupun Kementerian Kebudayaan.

“Tak adakah yang memberi tahu Jessica soal ini?” kata Clare sembari menyarankan Jessica menemui dewan kotanya. “Caranya sekarang sama seperti dulu para remaja menangis mengadu pecahnya boy band Take That dan Perdana Menteri tak bisa melakukan apa-apa.”

Perkataan Clare yang disampaikan lewat surat elektronik itu akhirnya dibaca oleh Jessica. Gadis cilik Wendover ini mengirim surat elektronik kepada Clare.”Pak Clare, ibuku menunjukkan yang Bapak tulis dan aku tidak senang membacanya,” tulis Jessic.

Sebagai orang dewasa, Jessica memandang Clare harusnya memberikan contoh dan bukan bersikap kasar kepada seorang anak yang sedang mencoba membuat perubahan terhadap penutupan perpustakaan. Jessica juga menyampaikan kalau ia paham betul pemerintah sedang kesulitan keuangan. “Aku juga membaca berita soal itu,” tulis Jessica.

Jessica menjelaskan, ia menulis kepada Perdana Menteri karena Pak Cameron dianggapnya seorang yang baik yang bisa mencari solusi masalah keuangan negara selain menutup perpustakaan. “Aku bukan sedang bicata soal Take That, tapi soal perpustakaan dan pendidikan anak yang jauh lebih penting buat aku dan teman-teman dari boy band manapun.”

Clare memang akhirnya minta maaf dengan pernyataannya soal Take That. Namun Jessica sudah terlanjur sedih.

“Kalau perpustakaan tutup, lalu di mana kami bisa mendapatkan buku? Tidak semua orang mampu membeli buku,” kata Jessica. “Aku kesal karena tak ada yang mau memperhatikan keinginan dan pandangan anak-anak sepertiku.”

Penulis buku anak Anthony Browne mendukung gerakan Jessica. Ia bahagia melihat anak-anak pun punya keinginan besar mencegah penutupan perpustakaan. Buat Browne, ini menunjukkan perpustakaan bernilai penting bagi orang tua dan muda. “Tanpa orang seperti Jessica maka perpustakaan pati tutup dan kita akan kehilangan sumber daya budaya dan pendidikan.”

Jessica sendiri menyatakan tak akan menyerah. “Aku akan terus berjuang untuk perpustakaanku!”

bukunya- dari pelbagai sumber

BACA JUGADemonstran Mesir Jaga Perpustakaan Alexandira

Advertisements