Kembalinya Buku Politik Tunisia dan Mesir

Posted on March 7, 2011 by

0



Buku terlarang mulai penuhi toko buku Tunisia dan Mesir. Midan Tahrir jadi tempat pameran buku internasional.

Buku-buku politik kembali mengisi rak-rak toko buku di Tunisia setelah tumbangnya Presiden Zine al-Abidine Ben Ali. Sebelumnya rezim Ben Ali melarang peredaran buku yang menyerang pemerintah dan keluarga presiden.

Buku yang disensor itu antara lain La Regente de Carthage karya Nicolas Beau dan Catherine Graciet. Buku ini mengungkap sepak terjang keluarga Ben Ali, terutama soal istrinya, Leila, yang disebut-sebut tengah disiapkan jadi orang nomor satu di Tunisia.

Ada juga buku tentang Presiden Habib Bourguiba yang digulingkan Ben Ali pada 1987. Buku yang berjudul La Trace et l’Heritage yang ditulis Michel Camau dan Vincent Geisser itu kini kembali dijajakan di toko buku.

Mulai dijajakan juga The Assassination of Salah Ben Youssef. Dalam bukunya ini, Omar Khlifi menulis soal penembakan terhadap mantan Menteri Hukum Tunisian tersebut di Frankfurt pada 1961. Masih ada banyak lagi buku-buku yang ditulis Toaufik Ben Brik, wartawan yang rajin mengkritik pemerintahan Ben Ali.

Direktur Kebebasan Penerbitan di Asosiasi Penerbit Internasional, Alexis Krikorian, menyambut baik munculnya buku-buku yang dahulu terkena sensor tersebut. Memang sensor masih menghalangi judul-judul buku politik baru terbit, namun Alexis yakin kebijakan itu tak akan bertahan lama.

Sementara itu di toko buku dan kios koran di Mesir juga mulai memajang buku-buku yang dulu masuk daftar hitam pemerintah. “Buku-buku yang dulu disembunyikan di gudang kini bisa menikmati udara segar di rak toko buku,” kata Salwa Gaspard dari penerbit Saqi Books.

Rencananya akhir Maret nanti sebuah festival buku akan digelar di Midan Tahrir. Menurut pengurus toko buku American University Kairo, Trevor Naylor, pameran buku itu jadi ganti acara serupa yang gagal diadakan Januari lalu karena meluasnya demo anti-MUbarak. Kala itu pameran buku internasional itu mendadak digagalkan dan sebagian utusan penerbit internasional bahkan terjebak di Mesir bersama kargo berisi buku-buku yang dibawa.

“Dunia melihat Midan Tahrir sebagai simbol kebebasan dan revolusi,” ujar Naylor. “Rasanya mengadakan pameran buku di sana adalah cara yang terbaik buat merayakan kemenangan revolusi dan pembebasan Mesir.”

bukunya- dari pelbagai sumber

Advertisements
Posted in: berita buku