Tren Endorsement & Bom Buku

Posted on March 21, 2011 by

2



Sebuah surat menyertai paket berisi buku untuk aktivis Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla. Pengirim yang mengaku bernama Sulaiman Azhar itu meminta Ulil memberi endorsement buat bukunya, Tak dinyana buku tebal itu berisi bom.

Kini memang tengah tren penulis atau penerbit meminta tokoh ternama, selebritas, ataupun sesama penulis memberikan komentar terhadap buku mereka, baik dalam bentuk kata pengantar atau yang kini tengah mewabah: testimonial singkat.

Bukunya berbicara dengan Pemimpin Redaksi Gagas Media Windy Ariestanty Bukune soal tren memberi endorsement dan bom buku, berikut ini petikan obrolan itu:

Pemimpin Redaksi Penerbit Gagas Media Windy Ariestanty (dok. pribadi)

Banyak penerbit yang meminta tokoh atau selebritas memberi edorsement buat buku terbitannya…

Setiap penerbit pasti punya alasan tersendiri. Tapi kalau dikembalikan ke fungsi dasarnya, endorsement itu bertujuan meyakinkan pembaca bahwa buku ini layak dibaca, tentunya dengan meminjam mulut pemberi testimonial.

Alasan Gagas sendiri seperti apa?

Kami sudah melakukannya sejak Gagas berdiri. Karena banyak menerbitkan karya penulis muda dan baru, maka fungsi endorsement saat itu untuk meyakinkan pembaca bahwa karya mereka bagus dan layak dibaca.

Endorsement kami mintakan dari penulis yang sudah punya nama atau para pesohor negeri yang memiliki pengaruh kepada pembaca.

Apakah endorsement meningkatkan minat beli?

Saya tidak tahu. Belum pernah melakukan riset tentang ini. Endorsement itu hanya untuk meyakinkan pembaca, buku layak dibaca. Banyak kasus juga buku dengan endorsement segambrengan enggak laku.

Seperti apa sih model testimonial yang ampuh?

Idealnya, memberikan pengakuan dan penilaian yang jujur mengapa ini layak dibaca. Kalau dilihat dari kacamata penerbit/penulis pastinya yang sanggup meyakinkan pembaca untuk membeli dan membaca buku yang ditulis dan diterbitkannya. Kalau dari kacamata pembaca, mereka memberi kesaksian tentang kekuatan buku ini dan apa yang akan didapatkan setelah membacanya.

Apakah testimonial dari selebritis atau orang terkenal lebih meningkatkan penjualan?

Karena si artis terkenal, “meminjam mulutnya” bisa menjadi cara sederhana berpromosi. Logikanya sederhana, pesohor memiliki pengaruh entah besar atau kecil. Buat saya sendiri, kalau ada buku denga endorsement dari penulis favorit saya, I’ll consider to buy it. Saya cuma ingint tahu kenapa mereka menyukai buku itu. Apa yang menurut mereka bagus dari buku ini?

Siapa yang mencari komentar itu, penulis atau penerbit?
Bisa keduanya. Di tempat kami, kadang ide ini muncul dari penerbit, tak jarang juga penulis yang berupaya mendapatkan endorsement.

Adakah kriteria memilih orang-orang yang akan memberi endorsement?
Tentu saja. Biasanya dipilih orang yang ahli di bidang yang dibahas buku tersebut, penulis, pesohor lainnya, bahkan bisa saja dari pembaca awam. Sejauh memang komentarnya memberikan pandangan alasan buku itu layak dibaca.

Apakah pemberi testimonial dibayar?

Sejauh ini di Gagas tidak. Tapi setelah buku terbit kami mengirimkan buku yang di-endorse-nya sebagai ucapan terima kasih. Agak lucu kalau dibayar, salah-salah para endorser menjadi tidak objektif lagi. Bagaimana pun menurut saya, endorsement itu harus objektif, jangan sampai menipu pembaca.

Tapi endorsement apalagi dalam bentuk testimonial singkat biasanya hanya berisi hal-hal yang bagus saja, bukankah itu sedikit “menipu”?

Belakangan, Gagas malah jarang menggunakan endorsement, karena entah kenapa saya melihat ada kecenderungan endorsement yang diberikan hanya berdasarkan hubungan baik atau tidak enak hati, sehingga tidak lagi sesuai fungsinya. Akibatnya berpotensi menipu pembaca.

Endorsement yang baik tentunya yang objektif. Tapi bagaimana pun penerbit dan penulis punya kepentingan.Ini tak bisa ditampik. Jadi, sedari awal sebaiknya penerbit dan penulis sadar betul fungsi endorsement itu apa dan pemberi endorsement pun paham betul bahwa komentar yang objektif itu yang diperlukan.

Banyak kasus juga buku dengan endorsement segambrengan enggak laku

Bagaimana dengan pembaca yang kecewa karena isi buku tak sebagus seperti kata pemberi endorsement?

Bisa saya pahami. Merasa tertipu. Saya pun demikian kalau membeli lantas kecewa dengan endorsement yang bombastis itu. Ke depannya, saya tak akan lagi percaya kepada si endorser.

Pernahkah diminta memberi testimoni?

Pernah. Ada yang saya berikan, tapi ada juga yang saya tolak. Biasanya, saya minta naskah finalnya dan kalau setelah dibaca ternyata tidak bagus, ya saya kembalikan dengan disertai permintaan maaf. Tentu saya menjelaskan mengapa saya tidak bisa memberi endorsement. Ada yang menerima, ada juga yang marah-marah.

Bagaimana pun, saya tak ingin orang kehilangan kepercayaan kepada ‘mulut’ saya. Penulis atau penerbit yang meminta endorsement kepada saya tidak membangun kredibilitas saya. Tentu, saya pun tak ingin kepercayaan orang di luar sana hancur hanya karena saya merasa tak enak hati, lalu memuji-muji. I don’t buy that.

Apa pendapat soal permintaan memberi endorsement yang ternyata itu buku berisi bom?

Ini kan hanya cara yang dipilih oleh pelaku. Ada banyak cara menipu dan menjebak. Saya tidak menganggap hal ini luar biasa atau sebuah penghinaan. It was just about a trick. Sama aja kayak kasus pesan pendek dari ibu atau ayah yang minta dikirimi pulsa, atau diberitakan kecelakaan dan berada di rumah sakit lalu minta dikirim uang.

Sekarang orang panik kalau dapat kiriman buku, apa komentar soal ini?

Wajar. Orang jadi waspada. Reaksi yang wajar saja buat saya. Petaka mengintai di mana-mana. Bahkan di tempat yang kita kira aman.

Apa Gagas akan menghentikan kuis berhadiah buku karena orang takut menerima paket buku?

Tidak. Saya bahkan tidak memikirkan hal ini sampai pertanyaan ini diajukan.

Advertisements
Posted in: berita buku