Setelah Nomor Tiga Mati

Posted on March 23, 2011 by

42



Mulanya kami bersembilan. Tiga mati. Akulah Nomor Empat. Berikutnya adalah giliranku.

[by Elsa Maran] Anak itu menjerit sejadi-jadinya. Nyeri yang terasa membakar daging membuat anak umur sembilan tahun ini terbangun. Garis berpijar itu bergerak mengelilingi pergelangan kaki kanannya dan meninggalkan bekas luka melingkar di sana.

Tiga tahun setelahnya, pijar kembali membakar kulit kakinya itu. Sejak itu sudah lebih dari dua puluh kali ia berganti identitas dan berpindah-pindah kota tempat tinggal. Tiga tahun setelahnya, tepatnya sejam yang lalu, lingkaran ketiga muncul dan ia pindah lagi ke Ohio, Amerika Serikat. Kali ini anak itu mengambil nama John Smith.

John adalah satu dari sembilan anak yang dimantrai tetua Lorien. Mantra pelindung itu membuat mereka harus dibunuh secara berurutan demi memperpanjang umur sisa-sisa bangsa Loric yang nyaris punah ini. Sepuluh tahun lalu, planet Lorien dihancurkan oleh kaum Mogadorian.

Sembilan anak yang masing-masing ditemani seorang penjaga itu dikirim ke bumi. Mereka berpisah berkilometer jauhnya tanpa boleh saling berhubungan sampai waktunya tiba. Luka melingkar di pergelangan kaki kanan memberitahu tiga anak sudah tewas dan kini Mogadorian memburu anak keempat: John Smith

Namun bukannya sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya, di sekolah barunya di Paradise, Ohio, John malah terlibat masalah dengan bintang football sekolah dan hampir menarik perhatian seantero sekolah karena dari kedua telapak tangannya keluar cahaya.

Masa-masa remaha pun membuai John. Menemukan sahabat sejati dalam diri Sam Goode, anak ceking yang terobsesi dengan alien. Jatuh cinta dengan Sarah Hart, cewek cantik mantan cheerleader yang sekarang menjadi fotografer sekolah.
Diam-diam ia tidak ingin meninggalkan Ohio meski para pemburu dari Mogadorian makin dekat. John pun harus memilih: lari ke kota lain bersama Henri, penjaganya, atau tinggal dan melatih kekuatan Pusakanya yang kini sudah muncul dan bertambah kuat setiap harinya.

Kisah Loric versus Mogadorian ini ditulis Pittacus Lore yang dalam novel ini dikisahkan sebagai seorang tetua Lorien. Pittacus Lore sebenarnya pseudonim dari duo penulis James Frey, yang menulis autobiografi palsu berjudul “A Million Little Pieces”, dan seorang alumnus Columbia University bernama Jobie Hughes. Lucunya, kedua nama itu dipakai menjadi pengganti nama alias John Smith, di sekuel novel ini selanjutnya, hanya saja diutak-atik menjadi James Hughes dan Jobie Frey.

Kecuali mantra-mantra pelindung tetua Lorien, Pittacus, maksud saya Frey dan Hughes, tak banyak menawarkan hal baru. Kisah remaja dengan kekuatan super plus bumbu percintaan dalam I Am Number Four nyaris sama dengan novel-novel remaja yang sedang tren. Dalam ranah sci-fi pun cerita perang antar-alien yang merembet ke bumi juga sudah tak terhitung lagi banyaknya.

Penceritaan pun menyisakan banyak tanya, misalnya bagaimana cara kaum Mogadorian berbaur dengan manusia Bumi jika penampilan fisik mereka begitu mengerikan? Juga bagaimana menyembunyikan binatang-binatang buas dari planet Mogadore? Mudah-mudahan saja jawabannya ada di buku keduanya, The Power of Six yang versi terjemahannya akan terbit akhir tahun ini.

Namun kadang hal-hal itu tak sempat dipikirkan karena kedua penulis membuat ceritanya bergerak cepat dan dipenuhi adegan perkelahian dan kejar-kejaran yang menegangkan. Kelancaran membaca novel yang sudah diangkat ke layar lebar ini juga didukung terjemahan yang mulus dan minim kesalahan pengetikan. Penampilan fisik buku edisi Indonesianya juga keren: cover hologram, kertas bagus yang enteng, pembatas buku terselip di dalam.

Judul : I Am Number Four
Pengarang : Pittacus Lore
Penerbit : Mizan Fantasi, Januari 2011
Tebal : 500 hal

Advertisements
Posted in: bedah buku