Ratu Penerbitan Jepang Berpulang

Posted on April 4, 2011 by

0



Cerita-cerita sukses Sawako Noma sejenak terhenti 30 Maret lalu. Semua berganti kabar meninggalnya perempuan berusia 67 tahun itu akibat serangan jantung. Memasuki usia satu abad, Kodansha, penerbit terbesar di Jepang, kehilangan presiden direkturnya.

Sawako adalah satu dari sedikit sekali perempuan yang jadi orang nomor satu di perusahaan papan atas Jepang. Sawako memang bukan perempuan pertama, karena pada 1941 neneknya, Sae Noma, sempat memimpin perusahaan. Namun bisa dibilang Sawako-lah bos tersukses sepanjang sejarah Kodansha.

Kematian mendadak Koremichi Noma pada 1987 membuat Sawako harus menggantikan suaminya itu sebagai pemimpin perusahaan keluarga yang didirikan pada 1911. Ketika itu penerbit di Jepang mulai keranjingan komik dan ibu lima anak ini memutuskan mengikuti tren itu sehingga memasuki dekade 1990-an Kodansha sudah menerbitkan hampir 3.000 judul manga. Tahun-tahun setelahnya Kodansha menerbitkan manga yang juga popular di Indonesia seperti Sailor Moon, Beck, dan Nodame Cantabile.

Salah satu judul yang mereka terbitkan adalah Akira, manga yang meletupkan keranjingan komik Jepang di Amerika Serkat. Sayap bisnis juga dilebarkan dengan mendirikan anak perusahaan di Abang Sam. Perusahaan di negeri seberang itu dimanfaatkan Sawako buat menerbitkan terjemahan bahasa Inggris dari karya-karya terkenal Jepang demi mengenalkan kebudayaan negaranya di dunia barat.

Sementara itu di dunia novel, Kodansha mengorbitkan banyak pengarang ternama seperti Kenzaburo Oe yang meraih penghargaan Nobel Sastra pada 1994. Novelis lainnya adalah Haruki Murakami yang novel debutnya, Norwegian Wood, diterbitkan pada tahun pertama Sawako memegang Kodansha. Novel Murakami itu meledak dan terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia.

Di bawah kepemimpinan Sawako profit Kodansha naik 32 persen. Sukses itu antara lain karena Sawako yang sarjana dan fasih berbahasa Inggris ini terbuka terhadap perkembangan teknologi.
Awal tahun ‘90-an Kodansha jadi stu dari sedikit perusahaan penerbitan Jepang yang memberikan informasi soal buku-buku terbitannya di situs Internet. Pada Juli 1997, Kodansha jadi penerbit kedua di negeri Matahari Terbit yang menawarkan pemesanan buku secara online.

Tahun lalu Kodansha memulai eksperimen menerbitkan novel karya Natsuhiko Kyogoku, Shineba Ii Noni (Lebih Baik Mati Saja) dalam dua format. Lima hari setelah versi cetak terbit, Kodansha merilis versi digitalnya untuk iPad.

Tapi Kodansha tak cuma terkenal karena bisnisnya. Perusahaan ini juga punya program bantuan untuk penerbit-penerbit di Asia dan Afrika. Sawako sendiri menjadi Direktur Dewan Promosi Membaca yang mengampanyekan kebiasaan mendongeng untuk anak-anak. Empat tahun lalu majalah Fortune memasukkan Sawako dalam daftar 50 Perempuan Berpengaruh di Dunia.

Sepak terjang Sawako memang terhenti, namun kepiawaiannya mengelola perusahaan penerbitan terekam di bekas rumahnya di Bunkyo, Tokyo, Jepang. Sebelas tahun lalu rumah itu disulap jadi Museum Kodansha Noma Memorial. Selain berisi koleksi benda-benda seni Jepang koleksi pendiri Kodansha, Seiji Noma, museum ini juga memamerkan perkembangan penerbitan Jepang sejak zaman Meiji.

Advertisements
Posted in: berita buku