Rekrutmen Teroris Via Bedah Buku

Posted on April 21, 2011 by

0



Pakar terorisme dari International Crisis Group, Sidney Jones, menemukan pola perekrutan jaringan teroris melalui acara bedah buku. Penelitian Sidney di Klaten, Jawa Tengah, menemukan beberapa remaja yang mengikuti kelompok garis keras setelah mengikuti diskusi buku tentang jihad.

“Anggota jaringan teroris berusia muda di Klaten itu mengaku tertarik setelah mengikuti acara bedah buku,” kata Sidney dalam diskusi tentang terorisme di gedung Dewan Perwakilan Daerah, Rabu (20/4).

Buku-buku yang kerap dipakai dalam rekrutmen rata-rata ditulis tokoh-tokoh garis keras di Timur Tengah yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh anggota jaringan teroris, terutama mereka yang sudah dibekuk polisi. “Mereka menerjemahkan buku ini saat dalam penjara dimana mereka memiliki banyak waktu luang,” ujarnya. “Buku ini sangat populer di Jawa dan tak ditemukan di luar Jawa.”

Salah satu buku yang disebut Sidney adalah Aqidah Islam Al Qaida yang dikarang Abu Mariyah Al-qurasy. Penerbitnya adalah Kafayeh Cipta Media yang memulai kegiatannya pada 2007. Penerbit yang bermarkas di Klaten ini memang banyak menerbitkan buku bertema jihad dan yang ditulis terpidana kasus terorisme seperti buku Ali Ghufron Risalah Iman Dari Balik Terali dan Jika Masih ada Yang Mempertanyakan Jihadku yang ditulis terpidana pelaku bom Bali Imam Samudra.

Meski dimanfaatkan jaringan teroris, Jones tak sepakat jika buku-buku tersebut dilarang beredar. Sidney yakin membaca buku tidak otomatis menjadikan seseorang jadi teroris. “Dalam acara bedah buku yang dilakukan jaringan teroris ini, ada suasana yang mendorong untuk berpikiran seperti itu,” ujarnya.

Ini bukan pertama kalinya Sidney mengangkat soal buku bertema jihad dan penerbitnya. Pada 2008, Sidney mengaitkan empat penerbit di Solo dengan jaringan teroris internasional Jamaah Islamiyah. Selain Kafayeh, Sidney juga menyebut Al Alaq, Kelompok Arafah, Kelompok al-Qowam, dan Kelompok Aqwam.

Menurut International Crisis Group Al Alaq dikelola oleh Ikhsan Miarso, yang disebut-sebut pernah jadi Kepala Subdivisi (Wakalah) Jamaah Islamiyah di Solo dan mengikuti latihan militer di Afghanistan.

Kelompok Arafah memulai distribusi buku dari Solo dan sejak Agustus 2000 berpindah ke depan Ponpes Al Mukmin. Bos penerbit ini adalah Tri Asmoro Kurniawan yang juga disebut-sebut International Crisis sebagai mantan Wakalah JI Jatim. Arafah memiliki lima anak penerbitan.

Sementara itu Kelompok Al-Qowam yang didirikan pada 1999, mempunyai sejumlah anak usaha yakni al-Qowam, Wacana Ilmiah Press, dan Mumtaza. Petinggi penerbit ini adalah Hawin Murtadlo yang juga disebut Sidney punya hubungan dengan Jamaah Islamiyah

Kemudian Kelompok Aqwam, dikelola Bambang Sukirno yang menulis buku tentang Imam Samudra. Bambang menerbitkan buku melalui dua label: Aqwam dan Jazera.

Buku-buku bertema jihad tersebut dijual bebas di internet seharga Rp 20 ribu sampai Rp 40 ribu. Beberapa blog soal buku juga aktif menawarkannya sejak 2009.

International Crisis Group mencatat buku seperti kumpulan tulisan dan orasi Abdullah Azzam, mentor Usamah bin Laden, sampai tiga kali naik cetak. Sementara buku karangan Imam Samudra terjual lebih dari 15 ribu eksemplar.

Kepada harian Solopos Direktur PT Aqwam Media Profetika, Bambang Sukirno, membantah tudingan International Crisis Group tersebut. ”Kalau tidak percaya silakan lihat koleksi penerbitan Aqwam,” ujarnya. “Itu ulah orang yang tidak punya pekerjaan.”

Direktur Arafah Group, Tri Asmoro, juga menampik bahwa ia pernah jadi anggota Jamaah Islamiyah dan penerbitannya punya hubungan dengan jaringan tersebut.

Bantahan senada juga disampaikan Direksi al Qowam Group, Abdurrauf. Dia mengatakan rilis ICG merupakan tudingan yang tak beralasan dan ngawur. ”Itu sama sekali ngawur. Tidak ada kaitan kami dengan Jamaah Islamiyah.”

Bukunya – dari pelbagai sumber

Advertisements
Posted in: berita buku