Polly Si Cupid Gagal

Posted on May 4, 2011 by

3



[by Elsa Maran]

Saya ingin menampar Polly Madassa!

Ya, Polly Madassa. Seandainya benar-benar nyata, ia pasti gadis dua belas tahun paling menyebalkan di muka bumi. Dia kira dengan membaca Pride and Prejudice serta Anne of Green Gables berulang kali membuatnya paham betul soal cinta.

Ia memang kecanduan segala yang berbau romantis. Omongannya pun selalu berbunga-bunga dengan menyisipkan kata-kata seperti “indah”, “cantik”, “molek”, dan “anggun”.

Sebagai gadis muda yang salah abad, Polly lebih suka mengenakan gaun daripada t-shirt dan jeans, senang menulis dengan pencahayaan lilin menggunakan pena bulu daripada pulpen. Lebih memilih menulis dengan mesin ketik daripada komputer.

Polly, yang bekerja membantu mengantarkan kue-kue selama musim panas untuk toko roti antik orangtuanya, merasa panggilan hidupnya adalah membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia jengah melihat kakaknya, Clementine, yang berpacaran dengan cowok bernama Clint, yang menurutnya, kasar dan sama sekali tidak gentleman.

Ia sedih melihat sahabat baiknya, Fran Fisk, dan ayahnya, yang telah selama tiga tahun terakhir menjalani hidup tanpa kehadiran seorang ibu dan istri. Juga ada Mr. Nightquist, seorang kakek dari cucu lelaki yang nakal, yang telah lama ditinggal mati istrinya.

Maka Polly mulai jadi mak comblang buat Clementine, Mr. Fisk, dan Mr. Nightquist. Figur ideal buat jadi pasangan mereka tentulah orang yang berpenampilan menawan dan “berbudaya”, kurang lebih seperti Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tokoh-tokoh dalam Pride and Prejudice.

Polly menganggap bahwa segala rencananya akan berjalan lancar, dan semua orang yang dijodohkannya akan mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis. Tanpa disadarinya, memaksakan cinta bisa mengarah kepada bencana.

Penulis novel ini, Lindsay Eland, adalah pecinta roman klasik. Ia bahkan menyarankan semua orang di dunia membaca Pride and Prejudice dan karya-karya roman klasik milik Jane Austen lainnya. Saking kesengsemnya, jika nanti kesampaian memiliki kuda jantan, Eland akan menamainya Mr. Darcy. Judul novel ini pun plesetan dari novel Austen, Sense and Sensibility.

Tak heran kalau dalam buku ini ia fasih betul dengan Pride and Prejudice yang jadi semacam “kitab suci” buat si cupid jejadian, Polly. Buat mereka yang menyukai novel-novel Jane Austen barangkali ini jadi bacaan yang pas.

Sayangnya, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai buku ini. Saya sudah membaca Pride and Prejudice yang jadi “kitab suci” bagi Polly itu dan saya tidak menyukainya.

Bagi saya karakter Elizabeth Bennet terlalu dangkal karena ia menilai seseorang berdasarkan pembawaan dan penampilan luarnya. Hey, orang yang rupawan tak selalu jujur dan baik hati. Sebaliknya, sebagian orang paling baik di dunia tidak tahu cara membawa diri dengan ramah dan ceria di depan orang banyak. Keramahan dan keceriaan bisa saja palsu.

Polly, menurut saya, sama dangkalnya dengan Elizabeth. Karena ia cepat menilai seseorang tanpa benar-benar mengenalnya. Ia juga tidak mengerti bahwa sesuatu yang romantis itu sangat relatif. Sebagian besar juga karena ia mengira ia tahu yang terbaik bagi orang-orang tercintanya.

Pesan moral dari cerita ini: lebih baik tak ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain. Anda juga pasti tidak mau kalau ada orang yang melakukan itu kepada anda.

Ini bukan buku favorit saya, tapi dalam hal gaya penulisan, saya mengacungi jempol buat Lindsay Eland yang berhasil memadukan gaya bahasa buku-buku klasik dengan setting masa kini (yang diterjemahkan dengan apik oleh Uci). Juga kepiawaian dalam penokohan Polly yang sukses membuat saya sebal padanya.

Judul:
Scones and Sensibility
Pengarang:
Lindsay Eland
Penerbit:
Atria, Maret 2011
Tebal:
308 halaman

Advertisements
Posted in: bedah buku