Yang Tersembunyi di Sirkus Benzini

Posted on May 30, 2011 by

4



[by Elsa Maran] Lompat! Hanya itu yang terlintas di benak Jacob Jankowski saat kereta sirkus Benzini Bersaudara Pertunjukan Paling Spektakuler di Dunia melintasi kotanya.

Calon dokter hewan dari sekolah ternama itu mendadak redup setelah kehilangan orangtuanya dalam sebuah kecelakaan mobil mematikan. Bukan cuma kesedihan yang ditinggalkan sang ayah, tapi juga utang yang menumpuk.

Melompat ke gerbong sirkus dan menghilang bersama rombongan Benzini jadi pilihan yang paling masuk akal. Meski ia harus menukar status mahasiswa dengan pekerjaan menyekop kotoran kuda.

Tapi itu hanya pekerjaan sementara karena August Rosenbluth, direktur pertunjukan kuda sekaligus tangan kanan pemilik sirkus, mengetahui Jacob pernah mengenyam pendidikan kedokteran hewan. August merekrutnya buat merawat hewan-hewan di menagerie (tenda binatang liar).

Sambil merawat binatang sirkus, Jacob menyaksikan kejamnya kehidupan yang dijalani rombongan sirkus. Perbedaan kasta antara bintang yang tampil di depan penonton dengan pekerja yang berpeluh di belakang layar. Paman Al, pemilik sirkus ambisius yang cuma peduli soal keuntungan dan menganggap binatang-binatang sirkus lebih berharga dari manusia, kecuali orang itu sangat aneh sehingga bisa dipertontonkan.

Ia juga terkejut melihat kepribadian ganda August Rosenbluth yang berubah mengerikan saat marah dan baik manusia maupun binatang tak lepas dari amukannya. Salah satu korbannya adalah Rosie, seekor gajah betina yang diadopsi Paman Al dari sirkus lain yang bangkrut. Bagi dia, Rosie adalah gajah dungu yang tak mau menuruti perintah-perintahnya.

Paman Al dan August juga sering menahan upah pekerja dan bahkan melakukan “pelampumerahan” kepada para pembangkang atau orang yang dianggap sudah tidak berguna. “Pelampumerahan” adalah istilah halus buat menendang orang-orang ke luar gerbong saat kereta melaju di malam hari, kadang-kadang dilakukan ketika kereta sedang melewati jembatan.

Jalinan cerita semakin menarik ketika Jacob jatuh cinta kepada Marlena. Penonton mengenalnya sebagai si cantik bintang pertunjukan berkuda. Sementara buat orang-orang sirkus Marlena adalah istri August.

Novel Water for Elephant ini dituturkan dari dua sudut pandang, yakni oleh Jacob Jankowsi tua yang telah berumur kepala sembilan dan tinggal di rumah jompo dan Jacob muda yang berada di rombongan sirkus Benzini. Ia bertutur soal kejamnya kehidupan di balik gemerlap pertunjukan sirkus pada era 1930-an. Sebuah era yang buruk bagi pekerja sirkus. Perang dunia, wabah flu mematikan, dan depresi ekonomi terus menggerus pendapatan. Posisi sirkus yang tadinya hiburan utama yang selalu dinanti kota-kota di Amerika mulai digeser oleh kemunculan film bersuara.

Saya sepakat dengan beberapa komentar di dunia maya bahwa plot buku ini sangat mudah ditebak. Karakter kedua tokoh utamanya juga kurang tajam dan kalah menonjol dibandingkan para tokoh pelengkapnya.

Namun kekurangan-kekurangan itu ditebus dengan penggambaran dunia sirkus berkereta yang sangat detail dan realistis. Penulisnya, Sara Gruen, memang meriset serba-serbi sirkus secara mendalam yang bisa dibaca pada Catatan Pengarang di bagian akhir buku. Selain itu, di dalam buku ini penulis menyelipkan foto-foto sirkus yang benar-benar pernah ada di Amerika Serikat pada tahun 1930-an, salah satunya adalah Ringling Circus.

Poster pertunjukkan sirkus Ringling Bros pada 1930-an

Ini adalah novel ketiga Sara Gruen yang semuanya memunculkan hewan, terutama sekali kuda. Gruen memang dikenal sebagai pendukung berbagai organisasi pecinta hewan. Namun berbeda dengan dua novel pendahulunya, Riding Lessons dan Flying Changes, naskah dua novel ini ditolak oleh penerbit langganannya, Avon Books.

Namun begitu terbit, novel ini langsung meroket dan diterjemahkan ke dalam 44 bahasa. Hingga akhir Mei 2001, novel ini masih bercokol di daftar teratas New York Times Bestseller. Besar kemungkinan itu disumbangkan juga oleh rilis versi filmnya di Amerika Serikat pada April lalu. Bintang Twilight Robert Pattinson yang memerankan Jacob Jankowski berpasangan dengan aktris pemenang Oscar, Reese Witherspoon, sebagai Marlena.

Namun di Indonesia novel ini memang kurang bunyi, mengingat sirkus memang kurang mengakar di Indonesia. Sirkus tak pernah jadi bagian dari hiburan masyarakat tanah air. Memang sekitar dua puluh tahun lalu sempat muncul, namun selebihnya absen dari tempat umum dan atraksi hewan cuma bisa dilihat di kebun binatang.

Tapi sejatinya novel ini bukan bicara soal sirkus semata. Meski judulnya Water for Elephants, buku ini juga bukan soal gajah sirkus karena jelas-jelas hanya ada satu tokoh gajah dalam cerita ini: Rosie.

Water for Elephants diambil dari frasa “carrying water for elephants” atau “membawa air untuk gajah” yang berarti suatu pekerjaan yang dianggap mengagumkan oleh banyak orang. Namun, tidak ada pekerjaan semacam ini di dalam sirkus, seperti yang ditegaskan oleh Jacob tua ketika ia berseru, “Kau tahu sebanyak apa gajah minum?” Faktanya, seekor gajah minum 25-75 gallon air atau sekitar 95-284 liter air per harinya, jauh melebihi jumlah air yang mampu dibawa oleh manusia.

Frase “carrying water for elephants” di novel ini sebenarnya bermakna membawa suatu beban berat, misalnya suatu rahasia yang tak bisa diberitahukan bahkan kepada orang-orang terdekat sekalipun. Memang dalam kisah ini, Jacob memiliki satu rahasia yang ia simpan rapat-rapat seumur hidupnya, yang tak diketahui oleh siapapun oleh bahkan istrinya.

Judul:
Air untuk Gajah (Water for Elephants)
Pengarang:
Sara Gruen
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama, September 2010
Tebal:
512 halaman

Advertisements